Senin, 25 April 2011

ODE

I
kamu adalah hujan dibulan itu
basah membasahi taman kita berdua
menghijaukan dedaunan yang pernah kuyu
sendu diterpa angin benua koala

II
hujan, rintiknya masih memayungi taman kita
kursi kursi  kokoh berangsur rapuh
sunyi, dingin saling berkejaran menjemput gulita
lampu kota serta merta mulai berpendar dari jauh


senyum bisumu mengajak pergi
sekarang kaki kita melangkah pada sebuah balai berdebu
segelas susu jadi teman berbagi
tentang hidup dan cerita cerita konyol putih abuabu

I
kamu adalah deret tak hingga dalam matematika logika
istimewa, hingga bilangan prima seakan negasi saja
juga bukan hati yang mudah ku terka
tak terdefenisi pada diam dan tawa

II
matahari mulai meninggi di mega
sekarang kaki kita melangkah pada sebuah stasiun berlatar kuning
dengan udara pagi menyambut kereta cepat tujuan kota
secepat itu pula, kita naik di gerbong tujuh pintu samping

jejalan manusia merapat dekapkan antara kita
dekat, dalam sebuah kehangatan
hingga detak jantung kamu dan aku saja yang berbicara
tentang madunya cinta,cita tak terkira di kota harapan
=====================================



Jumat, 22 April 2011

katalis ekonomi dan pariwisata masyarakat sungai musi

Jembatan Ampera, Palembang




riweh euy (saigon)

apa yang menarik dari Ho chi minh city yang lebih populer dengan panggilan saigon ini? budaya komunisnya, jejak perang saudara atau delta mekong? semuanya benar. 3 hal di atas sangat menggoda untuk ditelisik dari perjalanan ke Vietnam. tapi ternyata ada beberapa penampakan yang lebih menarik lagi dan cukup mudah dijumpai di tengah kota saigon. apakah itu?

kota motor

 saya menginap di sekitaran pha ngu lao di distrik 1 yang merupakan sentra backpackernya saigon. bermukim di wilayah ini berarti bersiap siap menerima keriuhan motor-motor yang berlalu lalang. banyak sekali kendaraan roda dua yang melintasi jalanan sekitaran distrik 1. mungkin perbandingannya 12:1. dan tidak hanya di distrik 1 yang penuh oleh motor, di beberapa tempat lain pun juga jamak ditemui.

pejalan kaki lah yang ketiban sialnya. sangat susah menyebrang ke sisi jalan lainnya. saya juga merasakannya bersama teman-teman seperjalanan,; heru, fera, marina, ucup. kami sempat linglung memikirkan bagaimana caranya melintas. akhirnya kami mendapat saran dari seorang teman yang lama menetap di vietnam. berikut tipsnya:
   - jangan terlalu pedulikan kendaraannya.
jika terus menunggu motor sepi, butuh waktu berjam jam untuk melintas. jadi, menyeberang saja saat itu juga
   - terus saja, jangan pernah berhenti saat sedang menyeberang
kita kadang terlalu takut ketika sudah berjarak begitu dekat dengan motor hingga menghentikan langkah bahkan mundur lagi. tapi, di saigon, malah berhenti ditengah jalan yang berbahaya. pengendara motor disana akan langsung mengalah dan menghindar ketika kita mulai menyeberang.

saigon connection

ketika berkunjung ke distro di pha ngu lao, saya menemukan sebuah baju bergambar menarik. baju tersebut bergambar sudut kota saigon dengan tiang listrik yang kabelnya sangat semarak. di atas gambar, ada tulisan "saigon connector". tampaknya baju ini merupakan sindiran untuk kondisi perkabelan di saigon. hampir ditiap sudut kota, kabel kabel listrik berserakan tidak beraturan diatas tiangnya. tidak terbayangkan oleh saya, bagaimana memperbaiki kabel yang rusak dan merawat kabel-kabel "liar" tersebut. bagaimana kalau terjadi arus pendek? 


inilah menariknya saigon bagi saya. rumit, ribet atau kalau kata orang sunda, riweh. susahnya menyeberang jalan dan berantakannya kabel-kabel listrik. riweh euy!

--------------------------------------------------------------
sekret tercinta , 4.50 am

Kamis, 21 April 2011

nomor telepon tim SAR berapa? (sempu)

lompatan kebahagiaan | Titah H. P.
Raut wajah semua anak B.O pers suara mahasiswa  (SUMA UI) tampak merekah secerah hari itu. kesenangan yang didapat dari perjalanan 2 hari yang lalu di Malang dan Batu masih berbekas. Sempu, pulau yang akan kami kunjungi berikutnya, merupakan puncak kegiatan Suma on tour (sumanto). besar harapan semua peserta terhadap cagar alam ini. keelokan laguna di tengah pulau  yang tidak berpenghuni memang tampak mempesona
persiapan menuju sempu dilakukan ala kadarnya. ya karena berencana balik hari. kami membawa makanan ringan, minum dan peralatan pendukung untuk trekking, seingat saya, ada coklat batang, coklat pasta, roti sobek, jelly, permen coklat, tikar plastik, baju ganti, kacamata, topi, air mineral dan minuman berenergi. Dan, perjalanan pun dimulai..
kira-kira jam 10 pagi, perahu yang di carter seharga 10.000 rupiah per kepala menambatkan lajunya di pesisir pulau. Semuanya turun dari perahu dengan riang gembira. Ada sekitar 19 orang: adi yang menjadi ketua rombongan, toge sang ketua SUMA, para sesepuh, sebutan kami untuk alumnus suma(Titah, rifki, happy), lisan, fanda, cimeng, galih, ayu, dhay, ghita, laras, vida, vidi, raisha, kiki, steny dan saya. Rombongan mulai berjalan dengan membentuk formasi. Saya lupa formasinya bagaimana, yang jelas para lelaki lelaki tangguh ditempatkan di beberapa posisi seperti di depan, pembawa barang, mendampingi teman cewek serta di belakang. Estimasi waktu yang dibutuhkan dari pesisir pulau ke laguna diperkirakan 2 jam. Tapi ternyata jalan yang dilalui tidak semudah yang di bayangkan. Tanah menjadi sangat becek karena semalam habis hujan. Trek yang dilalui juga tidak terlalu mudah meskipun seandainya saat itu tidak hujan. Apalagi banyak dari kami yang belum biasa trekking dihutan. Akhirnya kami saling bahu membahu dan memecah diri jadi 3 tim secara tidak sengaja. Ada tim depan, tengah dan tim yang paling belakang. Itupun saling menunggu agar tidak terlalu jauh jarak antar tim. Saking menunggunya, da rifki di tim terdepan sempat berenang di sisi laguna yang masih berada dalam rute trek. Perkiraanpun meleset sangat jauh karena ternyata kami membutuhkan waktu 6 jam hingga dapat melihat jernihnya air laguna sempu.

jalur trekking | Photografer Suma
Saat sampai di ujung rute trekking yang artinya danau air asin sempu, saya tanpa banyak pikir langsung menceburkan diri. Berendam sambil membersihkan kaki yang dipenuhi lumpur hingga selutut. Beberapa lainnya juga melakukan hal yang sama sedangkan sisanya beristirahat di bawah pepohonan rindang pinggir danau. Ketika berendam itulah saya menikmati betapa indahnya pulau ini. Air laguna berwarna biru tapi ketika mata sampai disisi satunya lagi, air berwarna hijau. Ada juga ikan-ikan kecil yang asik berenang kian kemari. Danau ini dangkal dan jernih. Membentang seluas stadion gelora bung karno di ibu kota negara kita. Disalah satu sisi, terlihat hutan cagar alam yang baru saja kami lalui. Di sisi lainnya ada karang bolong yang tampak gagah. Karang bolong berbentuk lingkaran yang kira kira berdiameter 150 meter ini selalu bergemuruh karena menjadi pintu air dan ventilasi antara laguna dan sumudera hindia di belakang dinding karang yang melingkari sebagian laguna. Alasan kenapa disebut danau air asin juga karena air yang berasal dari lautan lepas, bukan dari air tawar.
Setelah sejenak beristirahat, wajah sebagian dari teman teman mulai menampakkan ketegangan daripada keletihan. Sayapun sadar, waktu menunjukkan sekitar jam 4 sore saat itu. Rencana balik hari bisa terancam, karena kita harus mencapai bibir pulau lagi sebelum jam 6 jika ingin pulang. Dan, tidak dibolehkan trekking malam hari disana. Akhirnya kami semua merapatkannya di perairan dangkal danau. Mengingatnya menjadi satu kenangan indah tersendiri. Rapat dalam danau? Luar biasa..haha.
.
Rapat di danau air asin sempu | Photografer Suma
Keputusan bulat, kita tidak mungkin balik hari. Kita menetap dan pulang esok paginya. Anak-anak pun berulangkali melontarkan kata “cast away”. Merujuk sebuah film yang bercerita tentang tersesatnya seseorang di pulau tak berpenghuni. Dan memang sempu tidak berpenghuni karena merupakan cagar alam. Tapi saat itu ada juga beberapa kelompok yang berkemah di pinggir danau. Kita memang cast away, tapi tidak sendirian kawan.
Berbagai persoalan karena kurang persiapan dipecahkan dengan cara seadanya. Tenda darurat di buat dari tikar plastik. Kayu untuk api unggun mulai dikumpulkan dari ranting-ranting pohon. Semua logistik yang jumlahnya hanya cukup untuk sampai malam itu di keluarkan dan ditumpuk jadi satu. Saya masih ingat saat itu terbayang film “alive” yang bercerita tentang terdamparnya serombongan tim bola di pegunungan alpen. Saya mulai akan bergaya sok sok’an dramatis seperti di film itu dengan berusaha mengatur stok logistik secara ketat. Siapa saya ya? Ha. Toge pun membuyarkandan mengembalikan sadar saya. “Halah, ribet amat, makan aja yang lapar, tapi porsinya di tenggang. Ingat masih sampai pagi kita”  ujarnya. Nah setelah itu fanda ditugasi untuk menghubungi bapak-bapak di seberang pulau tempat kami berada. Saya akhirnya ikut membantu karena hape saya berhasil mendapatkan sinyal meski kecil. Kami sampai naik ke atas bukit untuk mencari sinyal, walah. Ternyata kontak itu sangat membantu. Bapak-bapak itu bersedia mengantarkan makanan nasi bungkus. Tidak kurang dari satu setengah jam setelah kami telpon, beliau sudah sampai di laguna. Pak, we proud of you. Kami yang muda saja butuh 6 jam. Kami juga dibawakan terpal. Oke, berarti malam ini, kalau cuaca baik-baik saja, kita aman. Insyaallah.

Menunggu bantuan datang | Photografer Suma
Selama semalam di sempu, ada beberapa kejadian yang sangat terekam oleh saya. Malam itu cuaca tampak bersahabat, dengan langit penuh kejora. Semarak yang tak akan kita jumpai di kota besar. Mereka seakan membentuk milky way. Tapi, ketika memasuki jam 1 malam, semuanya buyar. Hujan disertai angin kencang datang menemani. Tenda yang memang tidak mencukupi memaksa kami mengungsikan beberapa rekan ke tenda-tenda rombongan lain. Terimakasih untuk pertolongannya untuk kawan baru kenal ini. Lalu sisa dari kami berdiam didalam tenda dan menggunakan payung. Ya, tenda kami bocor, jadinya ya begitu. Beragam senda gurau dan sesi curhat hadir didalam tenda darurat untuk menghangatkan suasana.
Selang beberapa jam kemudian hujan berhenti, tapi tenda sudah terlanjur trengginas nasibnya, roboh. Kami lalu tidur beralaskan pasir dan beratapkan mega. Cobaan baru muncul, makluk sejenis kutu air dan nyamuk hutan datang menyerang. Lotion seakan tidak mempan. Esok paginya beberapa orang teman mengalami penyakit kulit karenanya seperti bintik kemerahan. Dan bintik itupun ada yang bertahan hingga 2 minggu meski sudah ke dokter.
Sore beberapa saat setelah sampai di laguna ataukah malam saat badai, saya lupa pastinya, adi sempat berujar “ nomor telepon tim SAR berapa? Becandaan yang jadi obat untuk suasana saat itu. Akhirnya guyonan ini menjadi buah tangan yang masih terngiang oleh rombongan sampai saat ini.
,oh sempu.. a ton of pain and love :D

Selasa, 19 April 2011

oleh oleh dari vietnam

april tahun lalu, saya dan teman teman berkunjung ke saigon, ho chi minh city. ini adalah sedikit dari oleh oleh yang bisa kami persembahkan untuk teman teman . sebuah majalah, yang berisikan catatan perjalanan yang mudah-mudahan bisa membantu perjalanan kawan semua dan ikut memperkaya khasanah kita.
amin.

hubungi saya melalui blog ini, jika teman-teman berminat versi lengkapnya.

big thank to contributor: ucup, fera, marina, heru and special for layouter, marina.


Senin, 18 April 2011

catatan kecil



sekejap! kamu berkunjung kala mendung menyapa lalu lenyap bersama derai hujan. darimu, ku ingat hanya tawa renyah saat gerimis membawa menjauh.

ya! aku mengharap awan hitam bertandang di sore ini, sekedar membalas tawamu

, 27 februari itu

Minggu, 17 April 2011

ingin hilang di kotamu (lagi)









































di kaki jembatan ampera, sealiran hilir sungai musi
di redup cahaya kota, sepanjang stasiun kertapati
semua membayang semu

sepertinya aku madu tersesat,racun melurus
bukan balada lemah kuat,hanyalah racauan halus
aku ingin hilang di kotamu (lagi)

Rabu, 13 April 2011

warisan megalitikum di negeri matahari terbit (bawomataluo)

Bawomataluo dengan latar batu lompat dan rumah raja



Matahari terbit itulah kira kira arti dari dari nama bawomataluo dalam bahasa nias. Sesuai namanya, desa Bawomataluo berada diatas bukit dengan ketinggian jauh dari permukaan laut. Dari desa dapat kita lihat sang surya bangun dari lelapnya. Dari sini juga dapat dirasakan matahari terik menyengat ubun ubun kepala. Di kejauhan, keelokan pantai Sorake dan Lagundri dapat tertangkap oleh mata


Bawomataluo terletak jauh di pedalaman kepulauan Nias yang berada di kabupaten Teluk Dalam. Untuk mencapai tempat ini, kita dapat mengaksesnya dari Sorake selama 45  menit. Tidak ada kendaraan umum yang memasuki wilayah desa. Ini dikarenakan geografisnya yang sulit dan penduduk yang sepi. Alat transportasi adalah kendaraan sewaan dari warga sekitar. Tapi sebaiknya kita menyewa ojek atau angkutan berikut sopirnya  dibanding mengendarai sendiri. Kebiasaan dan cara berkendaraan penduduk yang belum bisa dikatakan tertib serta watak yang keras membuat kita lebih nyaman dan aman didampingi oleh guide atau sopir.
Sepanjang perjalanan dari sorake menuju desa, desir ombak dan hamparan sawah saling berebutan menemani kita. Setelah 20 menit perjalanan, formasi landscape nya berganti dengan jalanan menanjak menuju ke atas bukit dengan sesekali dijumpai rumah warga di kiri-kanan jalan. Saat hampir mencapai desa, barulah ada perkampungan yang ramai oleh penduduk. Setelah memarkir kendaraan di dekat pintu masuk desa, kita harus menaiki tangga yang cukup tinggi untuk mencapai gerbang Bawomataluo. Mungkin sekitar 45 anak tangga.  Nah, ketika sudah mencapai anak tangga terakhir, barulah terlihat desa Bawomataluo.


Jejak-jejak megalitikum
Menjejakkan kaki di desa ini kita seperti ditarik kembali ke masa lampau, tepatnya zaman megalitikum. Pemberian predikat untuk bawomataluo dan beberapa desa lainnya di nias sebagai salah satu dari sepuluh warisan dunia zaman megalitikum yang masih hidup hingga saat ini adalah bukti nyata “kekunoan” desa ini.
Ada rumah adat yang begitu gagah bercengkrama dengan langit. Rumah adat penduduk yang disebut juga omo hada dalam bahasa Nias ini berusia ratusan tahun dan masih dirawat serta ditempati oleh penduduk desa. Hampir semua rumah di bawomataluo adalah omo hada. Rumah-rumah ini tertata dengan rapih di sisi-sisi desa dengan satu omo sebua (rumah adat raja) yang didiami kepala suku yang berukuran lebih besar di banding lainnya.  Untuk membuat omo sebua, dibutuhkan waktu 15 tahun lebih. Kayu laban adalah material yang menjadi komponen utama dalam membangunnya. Kayu ini didapat dari pohon laban yang banyak tumbuh di tanah Nias. Laban yang bisa digunakan untuk rumah haruslah dibacakan doa-doa tertentu oleh sesepuh adat. Seperti umur omo hada sendiri, kayu laban juga mampu terus menompang kontruksi rumah selama seabad.

Upacara Lompat batu

Di sekitar pekarangan rumah, jamak ditemui arca batu berbentuk hewan dan peralatan perang. Di dalam rumah warga juga dapat kita jumpai arca yang berwujud manusia dan hewan.  Yang berbentuk hewan umumnya berupa reptil sedangkan manusia berwujud sesepuh adat orang nias dahulu kala. Semua arca yang merupakan peninggalan sejarah berumur 50 sampai ratusan tahun lebih ini menunjukkan tingginya cita rasa seni ono niha (orang nias). Karena memang tidaklah mudah membuat pahatan-pahatan batu ini.


Pakaian adat khas nias juga bisa didapati di Bawomataluo. Baju terbuat dari anyaman dedaunan hingga bulu binatang. Aksesoris berupa kalung kayu, gelang dan berbagai perangkat perang turut melengkapi. Jenis pakaian adat yang dikenakan menunjukkan identitas si pemilik. Laki-laki yang mengenakan pakaian dari bulu hewan, gelang kayu dari emas, anting pada telinga kanan (fondruru), tombak, perisai, belati dan pedang dengan taring babi hutan di ganggangnya memiliki status sosial yang tinggi di antara ono niha lainnya.

Lalu ada juga upacara adat yang masih melekat erat di desa. Perkawinan adalah salah satu  upacara yang sangat prestisius bagi ono niha. Selain pakaian adat, upacara perkawinan menjadi ajang unjuk status sosial bagi warganya. Jangan heran jika dalam sebuah perhelatan perkawinan, 50 hingga 100 babi bisa dikorbankan. Mampu atau tidak untuk membayar, kadang menjadi urusan belakangan.Selain dari upacara dan pakaian adat, pentingnya status bagi penduduk desa juga dilihat dari nama atau gelar serta harta bergerak/tidak seperti rumah adat dan pesta. Penyambutan tamu merupakan upacara adat lainnya. Untuk menghormati tamu,dilakukan penyuguhan sirih. Tamu yang datang dihidangkan sirih (tawuo) , pinang muda, daun gambir yang sudah kering dan kapur dalam satu wadah yang di sebut gado. Kadang kala tembakau ikut ditambahkan dalam gado. Sirih ini dimakan dengan menggunakan tangan secara langsung. Seperti acara sunatan di banyak tempat, penduduk desa bawomataluo juga punya upacara kedewasaan. Upacaranya khas sekali dan tentu tidak asing bagi kita karena gambarnya terpajang pada uang lembaran Rp. 1000,00. Setiap laki-laki yang ingin disebut dewasa harus bisa melompati batu lompat setinggi 2,1 meter yang terletak ditengah-tengah lapangan desa. setiap anak akan berlatih dahulu secara tekun. Jika merasa telah siap, upacara lompat batupun digelar. Lompat batu menjadi ukuran kedewasaan karena disinilah terlihat keberanian, kekuatan mental, fisik dan semangat juang dari anak muda bawomataluo. Jika upacara terlewati dengan baik maka dia pantas mengemban amanat sebagai laki-laki dewasa nias. Amanat itu antara lain adalah menjaga desa dari serangan musuh.

Asimilasi dan reduksi budaya


Bersiap untuk tarian perang

Dahulunya antar desa sering terjadi pertikaian yang berujung perang. Perang inilah yang membuat tiap desa punya pola sosial yang dipersiapkan untuk menghadapi kemungkinan terburuk ini. Ono niha memilih lokasi desa secara cermat seperti bawomataluo yang terletak di atas bukit dan terasing. Ada upacara kedewasaan lompat batu yang berguna untuk mempersiapkan generasi penerus untuk menjaga desa. latihan perang juga sering diadakan.


Arus modernisasi yang terjadi saat ini ikut masuk ke nias dan desa-desa didalamnya. Secara tidak langsung, masyarakat nias ikut membaur dengan modernisasi. Sudah jarang terjadi perang antar desa di nias. Kondisi ini membuat tarian perang yang sebelumnya tenggelam menjadi popular dibandingkan perang itu sendiri. Warga menumpahkan hasrat perangnya pada tarian. Kewajiban untuk menjaga desa juga tidak ada lagi. Upacara lompat batupun tidak lagi menjadi suatu keharusan. Tidak setiap pemuda desa bawomataluo lihai dalam lompat batu. Tapi atraksi lompat batu tetap mudah dijumpai karena masih sering dilakukan sebagai upacara penyambutan tamu dan permintaan dari wisatawan yang berkunjung ke desa. pakaian adat tidak setiap hari digunakan karena ono niha mulai beralih pada pakaian yang dikenakan masyarakat umumnya seperti kaus dan daster. Seiring sulitnya mencari kayu laban dan proses pembuatan rumah yang memakan waktu lama, jumlah rumah adat nias turut berkurang. Di bawomataluo sendiri, beberapa keluarga mulai memilih rumah permanen.
Semua arus modernisasi itu sedikit demi sedikit menggerus kekayaan budaya bawomataluo. Belum lagi dengan banyaknya pencurian dan penjualan ilegal dari benda benda perang dan arca batu. Benda perang berupa pedang berganggang taring babi hutan, baju perang dan peralatan lainnya dijual ke luar nias dan luar negeri. Arca batu bahkan lebih parah lagi, peninggalan ini paling banyak diselundupkan karena harga jualnya tinggi yaitu ratusan juta. Ketamakan para kolektor mau tidak mau ikut mereduksi kekayaan budaya desa dan Nias keseluruhannya.


Menjaga warisan dunia
Desa Bawomataluo dan desa desa lainnya di Nias sampai saat ini masih bertahan dengan budaya megalitikumnya yang khas. Tapi pengaruh dari luar terus menggangu. Tarik menarik budaya mau tidak mau akan terus terjadi. Sekarang saja dapat dilihat perubahan dalam pola konsumsi dan berpakaian warga desa. jika tidak ada upaya pencegahan, tradisi ono niha ini akan lapuk ditelan zaman.
Sepupuh ono niha dalam bentuk arca
Pariwisata merupakan salah satu cara yang diterapkan pemerintah untuk mempertahankan keberadaan desa Bawomataluo dan desa lainnya. Beragam program wisata dirancang pemerintah. Ketika saya berkunjung, sedang berlangsung lomba foto sagara nias bangkit . salah satu bagian dari acara ini adalah melakukan kunjungan selama 4 hari di desa Bawomataluo. Sebagai salah satu desa adat yang tertata dengan baik, tidak salah memang penunjukan desa ini. Dengan mengundang para peserta lomba yang terdiri dari kalangan umum dan photographer media nasional, acara ini pun menjadi sangat meriah. Ada upacara perkawinan, tarian perang, lompat batu dan pembuatan video. Pariwisata memang menjanjikan. Warga Bawomataluo yang kedatangan turis untuk melihat kekayaan budayanya tentu akan terus berusaha menjaga tradisinya.

Banyaknya penyelundupan benda-benda cagar budaya Nias tampaknya belum menjadi perhatian pemerintah. Dari obrolan saya dengan seorang penyelundup benda antik di desa tersebut dapat saya simpulkan betapa mudahnya menyelundupkan barang keluar nias. Setiap bulan, selalu ada saja ada selundupan. Nilai uang yang menggiurkan memang jadi motif utama.

Jika menunggu pemerintah terus, tentu akan lama beresnya. Bukankan beliau-beliau juga harus memikirkan banyak hal lainnya untuk kesejahtraan rakyat? Lalu kita bisa apa? Berpariwisata dan mengenalkan tradisi nias dengan cara masing-masing melalui media dan komunitas yang kita punya itulah yang bisa kita lakukan, kata seorang kawan. Ada benarnya juga tampaknya. Jadi, tunggu apalagi, ayo berkunjung ke Nias teman teman..