Tampilkan postingan dengan label keluar rumah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label keluar rumah. Tampilkan semua postingan

Rabu, 03 Agustus 2011

endapan lumpur musi

menunggu hingga akhirnya kau datang, kaki jembatan ampera masih saja kuning kepekatan. lumpur memang merapatpapat pada sungai musi. airnya berupa liur yang benci tapi dikasih. semua sama. ada kepokokan melalui katalis ekonomi, ada kesarkasan  kota palembang  melalui kekuning pekatan.

musi dan kota boleh dibilang koheren  ketika menunggu. Mereka saling bercahaya dengan gelapnya. entah itu lumpur, kota atau malah kau...berujar " Aku bisa berjalan sendiri, tapi takkan selalu sampai alamat". tampak ada butuh yang jadi kekhususan. tapi salah satu (musi/kota) atau...mungkin keduanya, ingin membebaskan rasa itu. tapi..siapa bisa?

saat kau datang, ada ingin kenangan yang terjerat lupa.ada benih benci hidup, tumbuh, dan mati.. lalu hidup lagi. silih mengganti oleh kasih yang juga berkembang, layu lalu tumbuh lagi. Selalu kepingan ingatan timbul tenggelam. Tapi tetap saja lampau memberi warna dasar pada masa depan. seberapa ingat atau lupa tidaklah elementer. seperti juga nama yang dipertanyakan oleh penghukuman, juga identitas yang ada setelah nama. bukan sebelum. nama adalah warna dasarnya.

silam atau depan, semua masa akan tetap sama jika telah mengendap. apalagi yang diendap olehnya adalah rasa. apalagi tidak sejumput melainkan lalar yang menanar. menjerat kenangan pada lupa sama saja mencoba membunuh silam untuk menghidupi depan. tak kan bisa.

ampera waktu terus berdetak. walau menolak, rasa itu tak ubah. silam atau depan..
kita benci tapi mengkasih..kawan

Jumat, 03 Juni 2011

Pulang ke kotaku (Padang)

senja di pantai air manis




Terletak digugusan bukit barisan dan menghadap langsung samudera hindia menjadikan Sumatera Barat  sebagai kawasan dengan pesona alam yang terhitung lengkap. Sungai, danau, ngarai, pantai, gunung dan gugusan kepulauan dapat kita jumpai disini.  Kekayaan cita rasa seperti kuliner dan sastra ikut memberi warna yang unik. Belum lagi budaya minangkabau dan mentawai yang mengakar dalam masyarakatnya. Tidak salah jika kemudian pemerintah menetapkan sumatera barat sebagai satu dari sepuluh tujuan wisata utama di Indonesia. 
Setiap daerah diprovinsi ini  mempunyai potensi wisata tersendiri, termasuk Padang. Ia merupakan pintu masuk utama bagi aparatur negara, pebisnis dan wisatawan yang ingin berwisata ke sumatera barat. Segala urusan administratif tentunya berada di ibukota provinsi. Pelabuhan teluk bayur dan bandara international minangkabau menjadi ‘gate’ bagi pebisnis dan wisatawan. Beragam suku bangsa membaur di kota ini.
Pada januari lalu, saya berkesempatan untuk pulang ke kampung halaman, Padang. Lalu saya berkeliling dengan sepeda motor. Ternyata tidak banyak yang berubah dari kota ini meskipun belakangan seringkali diguncang gempa bumi. Padang masih menampilkan keelokannya. Ditengah panasnya kota terlihat banyak mobil angkutan umum yang trendy dan sporty. Berbeda dengan daerah lain, memang angkutan rakyat di kota bengkuang (sebutan lain padang) lebih pesolek. Angkutan umum didandani sedemikian rupa hingga seperti mobil balap. Dari luar tampak segala macam stiker, desain, air brush dan kaca film menghiasi mobil. Interiornya seakan tidak mau kalah. Ada sound system, lampu disko, kursi empuk hingga televisi. Orang yang baru pertama kali ke kota ini tentu akan terkejut sekaligus kagum. Ini tentu menjadi daya tarik  tersendiri bagi pariwisata Padang.
Saya kemudian menyusuri kawasan pantai padang, ini merupakan objek wisata utama di padang. Jika dilihat pantainya, tidak ada yang spesial. Hitam, dan agak kotor. Tapi, jika senja sudah menjelang, pemandangan surya tenggelam diujung cakrawala sangatlah indah.  Saat cuaca bagus, jarang sekali kita tidak mendapati sunset. Aneka hiburan dan fasilitas di pinggir pantai ikut menyemarakkan. Ada arena bermain, jejeran warung makan, dan beragam acara yang sering diadakan pemerintah kota disini. 
Saya hanya sakedar melewati kawasan pantai. Saat itu, waktu  menunjukkan pukul 13.30, masih siang. Selanjutnya saya sampai di jembatan siti nurbaya. Jembatan ini satu arah dari pantai, karena terletak di muara. Disekitar jembatan juga terdapat kawasan kota tua. Berada di sekitaran jembatan sambil menikmati pemandangan muara yang banyak terdapat kapal nelayan serta cruise mengingatkan kita kepada roman marah rusli yang berjudul siti nurbaya. Ya, di sekitaran jembatan, yang bersanding gunung padang inilah marah rusli banyak bercerita tentang intrik hubungan datuk maringgih dengan siti nurbaya.

muara padang
Di balik gunung padang terdapat roman lainnya yang melegenda, yaitu malinkundang. Saya meneruskan perjalanan hingga sampai di tempat legenda ini berasal, pantai air manis. Dari muara, kira-kira 30 menit dengan menggunakan sepeda motor. Pantai air manis lebih bagus dari pantai padang.  Pasir putih, bersih dan jernih, mungkin karena berada dipinggi kota. Tapi kalau fasilitas, masih tertinggal dari pantai padang. Hanya ada warung makan sederhana di sekitaran pantai.  Jika sedang surut, kita bisa menyebrang dengan berjalan kaki ke pulau kecil tak berpenghuni yang berada dibarat dekat pantai.  Di ujung selatan pantai, terdapat sebuah batu menyerupai orang bersujud. Batu ini dianggap malinkundang yang dikutuk oleh ibunya kerena durhaka. Benar atau tidaknya, patut ditelusuri lagi. Banyak memang yang meragukan keasilian kisah ataupun batu ini. Seorang novelis, E.S Ito  malah menampilkan cerita dari sudut pandang dengan fakta yang berbeda tentang malinkundang. Menurutnya, batu itu adalah batu yang dibuat saudara ibu malin. Lengkapnya silahkan di lihat di Itonesia.com

Sepulangnya dari pantai air manis saya sempatkan  menyantap kuliner kota tercinta. Sate danguang-danguang dan teh talua  habis saya lahap. Es durian dan martabak mesir juga tidak lupa. Tapi karena sudah kenyah, 2 kuliner terakhir saya bungkus pulang untuk jadi cemilan tengah malam. 
Berkeliling kota padang dengan rute tadi dan menyantap kuliner khas padang setelahnya terasa cukup mengobati kerinduan akan berwisata dikota ini. Kehirukpikukan kota dengan pantai dan segala roman sastranya dibumbui racikan khas padang pada makanannya bisa jadi adalah nyawa pariwisata kota padang.

Jumat, 22 April 2011

riweh euy (saigon)

apa yang menarik dari Ho chi minh city yang lebih populer dengan panggilan saigon ini? budaya komunisnya, jejak perang saudara atau delta mekong? semuanya benar. 3 hal di atas sangat menggoda untuk ditelisik dari perjalanan ke Vietnam. tapi ternyata ada beberapa penampakan yang lebih menarik lagi dan cukup mudah dijumpai di tengah kota saigon. apakah itu?

kota motor

 saya menginap di sekitaran pha ngu lao di distrik 1 yang merupakan sentra backpackernya saigon. bermukim di wilayah ini berarti bersiap siap menerima keriuhan motor-motor yang berlalu lalang. banyak sekali kendaraan roda dua yang melintasi jalanan sekitaran distrik 1. mungkin perbandingannya 12:1. dan tidak hanya di distrik 1 yang penuh oleh motor, di beberapa tempat lain pun juga jamak ditemui.

pejalan kaki lah yang ketiban sialnya. sangat susah menyebrang ke sisi jalan lainnya. saya juga merasakannya bersama teman-teman seperjalanan,; heru, fera, marina, ucup. kami sempat linglung memikirkan bagaimana caranya melintas. akhirnya kami mendapat saran dari seorang teman yang lama menetap di vietnam. berikut tipsnya:
   - jangan terlalu pedulikan kendaraannya.
jika terus menunggu motor sepi, butuh waktu berjam jam untuk melintas. jadi, menyeberang saja saat itu juga
   - terus saja, jangan pernah berhenti saat sedang menyeberang
kita kadang terlalu takut ketika sudah berjarak begitu dekat dengan motor hingga menghentikan langkah bahkan mundur lagi. tapi, di saigon, malah berhenti ditengah jalan yang berbahaya. pengendara motor disana akan langsung mengalah dan menghindar ketika kita mulai menyeberang.

saigon connection

ketika berkunjung ke distro di pha ngu lao, saya menemukan sebuah baju bergambar menarik. baju tersebut bergambar sudut kota saigon dengan tiang listrik yang kabelnya sangat semarak. di atas gambar, ada tulisan "saigon connector". tampaknya baju ini merupakan sindiran untuk kondisi perkabelan di saigon. hampir ditiap sudut kota, kabel kabel listrik berserakan tidak beraturan diatas tiangnya. tidak terbayangkan oleh saya, bagaimana memperbaiki kabel yang rusak dan merawat kabel-kabel "liar" tersebut. bagaimana kalau terjadi arus pendek? 


inilah menariknya saigon bagi saya. rumit, ribet atau kalau kata orang sunda, riweh. susahnya menyeberang jalan dan berantakannya kabel-kabel listrik. riweh euy!

--------------------------------------------------------------
sekret tercinta , 4.50 am

Kamis, 21 April 2011

nomor telepon tim SAR berapa? (sempu)

lompatan kebahagiaan | Titah H. P.
Raut wajah semua anak B.O pers suara mahasiswa  (SUMA UI) tampak merekah secerah hari itu. kesenangan yang didapat dari perjalanan 2 hari yang lalu di Malang dan Batu masih berbekas. Sempu, pulau yang akan kami kunjungi berikutnya, merupakan puncak kegiatan Suma on tour (sumanto). besar harapan semua peserta terhadap cagar alam ini. keelokan laguna di tengah pulau  yang tidak berpenghuni memang tampak mempesona
persiapan menuju sempu dilakukan ala kadarnya. ya karena berencana balik hari. kami membawa makanan ringan, minum dan peralatan pendukung untuk trekking, seingat saya, ada coklat batang, coklat pasta, roti sobek, jelly, permen coklat, tikar plastik, baju ganti, kacamata, topi, air mineral dan minuman berenergi. Dan, perjalanan pun dimulai..
kira-kira jam 10 pagi, perahu yang di carter seharga 10.000 rupiah per kepala menambatkan lajunya di pesisir pulau. Semuanya turun dari perahu dengan riang gembira. Ada sekitar 19 orang: adi yang menjadi ketua rombongan, toge sang ketua SUMA, para sesepuh, sebutan kami untuk alumnus suma(Titah, rifki, happy), lisan, fanda, cimeng, galih, ayu, dhay, ghita, laras, vida, vidi, raisha, kiki, steny dan saya. Rombongan mulai berjalan dengan membentuk formasi. Saya lupa formasinya bagaimana, yang jelas para lelaki lelaki tangguh ditempatkan di beberapa posisi seperti di depan, pembawa barang, mendampingi teman cewek serta di belakang. Estimasi waktu yang dibutuhkan dari pesisir pulau ke laguna diperkirakan 2 jam. Tapi ternyata jalan yang dilalui tidak semudah yang di bayangkan. Tanah menjadi sangat becek karena semalam habis hujan. Trek yang dilalui juga tidak terlalu mudah meskipun seandainya saat itu tidak hujan. Apalagi banyak dari kami yang belum biasa trekking dihutan. Akhirnya kami saling bahu membahu dan memecah diri jadi 3 tim secara tidak sengaja. Ada tim depan, tengah dan tim yang paling belakang. Itupun saling menunggu agar tidak terlalu jauh jarak antar tim. Saking menunggunya, da rifki di tim terdepan sempat berenang di sisi laguna yang masih berada dalam rute trek. Perkiraanpun meleset sangat jauh karena ternyata kami membutuhkan waktu 6 jam hingga dapat melihat jernihnya air laguna sempu.

jalur trekking | Photografer Suma
Saat sampai di ujung rute trekking yang artinya danau air asin sempu, saya tanpa banyak pikir langsung menceburkan diri. Berendam sambil membersihkan kaki yang dipenuhi lumpur hingga selutut. Beberapa lainnya juga melakukan hal yang sama sedangkan sisanya beristirahat di bawah pepohonan rindang pinggir danau. Ketika berendam itulah saya menikmati betapa indahnya pulau ini. Air laguna berwarna biru tapi ketika mata sampai disisi satunya lagi, air berwarna hijau. Ada juga ikan-ikan kecil yang asik berenang kian kemari. Danau ini dangkal dan jernih. Membentang seluas stadion gelora bung karno di ibu kota negara kita. Disalah satu sisi, terlihat hutan cagar alam yang baru saja kami lalui. Di sisi lainnya ada karang bolong yang tampak gagah. Karang bolong berbentuk lingkaran yang kira kira berdiameter 150 meter ini selalu bergemuruh karena menjadi pintu air dan ventilasi antara laguna dan sumudera hindia di belakang dinding karang yang melingkari sebagian laguna. Alasan kenapa disebut danau air asin juga karena air yang berasal dari lautan lepas, bukan dari air tawar.
Setelah sejenak beristirahat, wajah sebagian dari teman teman mulai menampakkan ketegangan daripada keletihan. Sayapun sadar, waktu menunjukkan sekitar jam 4 sore saat itu. Rencana balik hari bisa terancam, karena kita harus mencapai bibir pulau lagi sebelum jam 6 jika ingin pulang. Dan, tidak dibolehkan trekking malam hari disana. Akhirnya kami semua merapatkannya di perairan dangkal danau. Mengingatnya menjadi satu kenangan indah tersendiri. Rapat dalam danau? Luar biasa..haha.
.
Rapat di danau air asin sempu | Photografer Suma
Keputusan bulat, kita tidak mungkin balik hari. Kita menetap dan pulang esok paginya. Anak-anak pun berulangkali melontarkan kata “cast away”. Merujuk sebuah film yang bercerita tentang tersesatnya seseorang di pulau tak berpenghuni. Dan memang sempu tidak berpenghuni karena merupakan cagar alam. Tapi saat itu ada juga beberapa kelompok yang berkemah di pinggir danau. Kita memang cast away, tapi tidak sendirian kawan.
Berbagai persoalan karena kurang persiapan dipecahkan dengan cara seadanya. Tenda darurat di buat dari tikar plastik. Kayu untuk api unggun mulai dikumpulkan dari ranting-ranting pohon. Semua logistik yang jumlahnya hanya cukup untuk sampai malam itu di keluarkan dan ditumpuk jadi satu. Saya masih ingat saat itu terbayang film “alive” yang bercerita tentang terdamparnya serombongan tim bola di pegunungan alpen. Saya mulai akan bergaya sok sok’an dramatis seperti di film itu dengan berusaha mengatur stok logistik secara ketat. Siapa saya ya? Ha. Toge pun membuyarkandan mengembalikan sadar saya. “Halah, ribet amat, makan aja yang lapar, tapi porsinya di tenggang. Ingat masih sampai pagi kita”  ujarnya. Nah setelah itu fanda ditugasi untuk menghubungi bapak-bapak di seberang pulau tempat kami berada. Saya akhirnya ikut membantu karena hape saya berhasil mendapatkan sinyal meski kecil. Kami sampai naik ke atas bukit untuk mencari sinyal, walah. Ternyata kontak itu sangat membantu. Bapak-bapak itu bersedia mengantarkan makanan nasi bungkus. Tidak kurang dari satu setengah jam setelah kami telpon, beliau sudah sampai di laguna. Pak, we proud of you. Kami yang muda saja butuh 6 jam. Kami juga dibawakan terpal. Oke, berarti malam ini, kalau cuaca baik-baik saja, kita aman. Insyaallah.

Menunggu bantuan datang | Photografer Suma
Selama semalam di sempu, ada beberapa kejadian yang sangat terekam oleh saya. Malam itu cuaca tampak bersahabat, dengan langit penuh kejora. Semarak yang tak akan kita jumpai di kota besar. Mereka seakan membentuk milky way. Tapi, ketika memasuki jam 1 malam, semuanya buyar. Hujan disertai angin kencang datang menemani. Tenda yang memang tidak mencukupi memaksa kami mengungsikan beberapa rekan ke tenda-tenda rombongan lain. Terimakasih untuk pertolongannya untuk kawan baru kenal ini. Lalu sisa dari kami berdiam didalam tenda dan menggunakan payung. Ya, tenda kami bocor, jadinya ya begitu. Beragam senda gurau dan sesi curhat hadir didalam tenda darurat untuk menghangatkan suasana.
Selang beberapa jam kemudian hujan berhenti, tapi tenda sudah terlanjur trengginas nasibnya, roboh. Kami lalu tidur beralaskan pasir dan beratapkan mega. Cobaan baru muncul, makluk sejenis kutu air dan nyamuk hutan datang menyerang. Lotion seakan tidak mempan. Esok paginya beberapa orang teman mengalami penyakit kulit karenanya seperti bintik kemerahan. Dan bintik itupun ada yang bertahan hingga 2 minggu meski sudah ke dokter.
Sore beberapa saat setelah sampai di laguna ataukah malam saat badai, saya lupa pastinya, adi sempat berujar “ nomor telepon tim SAR berapa? Becandaan yang jadi obat untuk suasana saat itu. Akhirnya guyonan ini menjadi buah tangan yang masih terngiang oleh rombongan sampai saat ini.
,oh sempu.. a ton of pain and love :D

Rabu, 13 April 2011

warisan megalitikum di negeri matahari terbit (bawomataluo)

Bawomataluo dengan latar batu lompat dan rumah raja



Matahari terbit itulah kira kira arti dari dari nama bawomataluo dalam bahasa nias. Sesuai namanya, desa Bawomataluo berada diatas bukit dengan ketinggian jauh dari permukaan laut. Dari desa dapat kita lihat sang surya bangun dari lelapnya. Dari sini juga dapat dirasakan matahari terik menyengat ubun ubun kepala. Di kejauhan, keelokan pantai Sorake dan Lagundri dapat tertangkap oleh mata


Bawomataluo terletak jauh di pedalaman kepulauan Nias yang berada di kabupaten Teluk Dalam. Untuk mencapai tempat ini, kita dapat mengaksesnya dari Sorake selama 45  menit. Tidak ada kendaraan umum yang memasuki wilayah desa. Ini dikarenakan geografisnya yang sulit dan penduduk yang sepi. Alat transportasi adalah kendaraan sewaan dari warga sekitar. Tapi sebaiknya kita menyewa ojek atau angkutan berikut sopirnya  dibanding mengendarai sendiri. Kebiasaan dan cara berkendaraan penduduk yang belum bisa dikatakan tertib serta watak yang keras membuat kita lebih nyaman dan aman didampingi oleh guide atau sopir.
Sepanjang perjalanan dari sorake menuju desa, desir ombak dan hamparan sawah saling berebutan menemani kita. Setelah 20 menit perjalanan, formasi landscape nya berganti dengan jalanan menanjak menuju ke atas bukit dengan sesekali dijumpai rumah warga di kiri-kanan jalan. Saat hampir mencapai desa, barulah ada perkampungan yang ramai oleh penduduk. Setelah memarkir kendaraan di dekat pintu masuk desa, kita harus menaiki tangga yang cukup tinggi untuk mencapai gerbang Bawomataluo. Mungkin sekitar 45 anak tangga.  Nah, ketika sudah mencapai anak tangga terakhir, barulah terlihat desa Bawomataluo.


Jejak-jejak megalitikum
Menjejakkan kaki di desa ini kita seperti ditarik kembali ke masa lampau, tepatnya zaman megalitikum. Pemberian predikat untuk bawomataluo dan beberapa desa lainnya di nias sebagai salah satu dari sepuluh warisan dunia zaman megalitikum yang masih hidup hingga saat ini adalah bukti nyata “kekunoan” desa ini.
Ada rumah adat yang begitu gagah bercengkrama dengan langit. Rumah adat penduduk yang disebut juga omo hada dalam bahasa Nias ini berusia ratusan tahun dan masih dirawat serta ditempati oleh penduduk desa. Hampir semua rumah di bawomataluo adalah omo hada. Rumah-rumah ini tertata dengan rapih di sisi-sisi desa dengan satu omo sebua (rumah adat raja) yang didiami kepala suku yang berukuran lebih besar di banding lainnya.  Untuk membuat omo sebua, dibutuhkan waktu 15 tahun lebih. Kayu laban adalah material yang menjadi komponen utama dalam membangunnya. Kayu ini didapat dari pohon laban yang banyak tumbuh di tanah Nias. Laban yang bisa digunakan untuk rumah haruslah dibacakan doa-doa tertentu oleh sesepuh adat. Seperti umur omo hada sendiri, kayu laban juga mampu terus menompang kontruksi rumah selama seabad.

Upacara Lompat batu

Di sekitar pekarangan rumah, jamak ditemui arca batu berbentuk hewan dan peralatan perang. Di dalam rumah warga juga dapat kita jumpai arca yang berwujud manusia dan hewan.  Yang berbentuk hewan umumnya berupa reptil sedangkan manusia berwujud sesepuh adat orang nias dahulu kala. Semua arca yang merupakan peninggalan sejarah berumur 50 sampai ratusan tahun lebih ini menunjukkan tingginya cita rasa seni ono niha (orang nias). Karena memang tidaklah mudah membuat pahatan-pahatan batu ini.


Pakaian adat khas nias juga bisa didapati di Bawomataluo. Baju terbuat dari anyaman dedaunan hingga bulu binatang. Aksesoris berupa kalung kayu, gelang dan berbagai perangkat perang turut melengkapi. Jenis pakaian adat yang dikenakan menunjukkan identitas si pemilik. Laki-laki yang mengenakan pakaian dari bulu hewan, gelang kayu dari emas, anting pada telinga kanan (fondruru), tombak, perisai, belati dan pedang dengan taring babi hutan di ganggangnya memiliki status sosial yang tinggi di antara ono niha lainnya.

Lalu ada juga upacara adat yang masih melekat erat di desa. Perkawinan adalah salah satu  upacara yang sangat prestisius bagi ono niha. Selain pakaian adat, upacara perkawinan menjadi ajang unjuk status sosial bagi warganya. Jangan heran jika dalam sebuah perhelatan perkawinan, 50 hingga 100 babi bisa dikorbankan. Mampu atau tidak untuk membayar, kadang menjadi urusan belakangan.Selain dari upacara dan pakaian adat, pentingnya status bagi penduduk desa juga dilihat dari nama atau gelar serta harta bergerak/tidak seperti rumah adat dan pesta. Penyambutan tamu merupakan upacara adat lainnya. Untuk menghormati tamu,dilakukan penyuguhan sirih. Tamu yang datang dihidangkan sirih (tawuo) , pinang muda, daun gambir yang sudah kering dan kapur dalam satu wadah yang di sebut gado. Kadang kala tembakau ikut ditambahkan dalam gado. Sirih ini dimakan dengan menggunakan tangan secara langsung. Seperti acara sunatan di banyak tempat, penduduk desa bawomataluo juga punya upacara kedewasaan. Upacaranya khas sekali dan tentu tidak asing bagi kita karena gambarnya terpajang pada uang lembaran Rp. 1000,00. Setiap laki-laki yang ingin disebut dewasa harus bisa melompati batu lompat setinggi 2,1 meter yang terletak ditengah-tengah lapangan desa. setiap anak akan berlatih dahulu secara tekun. Jika merasa telah siap, upacara lompat batupun digelar. Lompat batu menjadi ukuran kedewasaan karena disinilah terlihat keberanian, kekuatan mental, fisik dan semangat juang dari anak muda bawomataluo. Jika upacara terlewati dengan baik maka dia pantas mengemban amanat sebagai laki-laki dewasa nias. Amanat itu antara lain adalah menjaga desa dari serangan musuh.

Asimilasi dan reduksi budaya


Bersiap untuk tarian perang

Dahulunya antar desa sering terjadi pertikaian yang berujung perang. Perang inilah yang membuat tiap desa punya pola sosial yang dipersiapkan untuk menghadapi kemungkinan terburuk ini. Ono niha memilih lokasi desa secara cermat seperti bawomataluo yang terletak di atas bukit dan terasing. Ada upacara kedewasaan lompat batu yang berguna untuk mempersiapkan generasi penerus untuk menjaga desa. latihan perang juga sering diadakan.


Arus modernisasi yang terjadi saat ini ikut masuk ke nias dan desa-desa didalamnya. Secara tidak langsung, masyarakat nias ikut membaur dengan modernisasi. Sudah jarang terjadi perang antar desa di nias. Kondisi ini membuat tarian perang yang sebelumnya tenggelam menjadi popular dibandingkan perang itu sendiri. Warga menumpahkan hasrat perangnya pada tarian. Kewajiban untuk menjaga desa juga tidak ada lagi. Upacara lompat batupun tidak lagi menjadi suatu keharusan. Tidak setiap pemuda desa bawomataluo lihai dalam lompat batu. Tapi atraksi lompat batu tetap mudah dijumpai karena masih sering dilakukan sebagai upacara penyambutan tamu dan permintaan dari wisatawan yang berkunjung ke desa. pakaian adat tidak setiap hari digunakan karena ono niha mulai beralih pada pakaian yang dikenakan masyarakat umumnya seperti kaus dan daster. Seiring sulitnya mencari kayu laban dan proses pembuatan rumah yang memakan waktu lama, jumlah rumah adat nias turut berkurang. Di bawomataluo sendiri, beberapa keluarga mulai memilih rumah permanen.
Semua arus modernisasi itu sedikit demi sedikit menggerus kekayaan budaya bawomataluo. Belum lagi dengan banyaknya pencurian dan penjualan ilegal dari benda benda perang dan arca batu. Benda perang berupa pedang berganggang taring babi hutan, baju perang dan peralatan lainnya dijual ke luar nias dan luar negeri. Arca batu bahkan lebih parah lagi, peninggalan ini paling banyak diselundupkan karena harga jualnya tinggi yaitu ratusan juta. Ketamakan para kolektor mau tidak mau ikut mereduksi kekayaan budaya desa dan Nias keseluruhannya.


Menjaga warisan dunia
Desa Bawomataluo dan desa desa lainnya di Nias sampai saat ini masih bertahan dengan budaya megalitikumnya yang khas. Tapi pengaruh dari luar terus menggangu. Tarik menarik budaya mau tidak mau akan terus terjadi. Sekarang saja dapat dilihat perubahan dalam pola konsumsi dan berpakaian warga desa. jika tidak ada upaya pencegahan, tradisi ono niha ini akan lapuk ditelan zaman.
Sepupuh ono niha dalam bentuk arca
Pariwisata merupakan salah satu cara yang diterapkan pemerintah untuk mempertahankan keberadaan desa Bawomataluo dan desa lainnya. Beragam program wisata dirancang pemerintah. Ketika saya berkunjung, sedang berlangsung lomba foto sagara nias bangkit . salah satu bagian dari acara ini adalah melakukan kunjungan selama 4 hari di desa Bawomataluo. Sebagai salah satu desa adat yang tertata dengan baik, tidak salah memang penunjukan desa ini. Dengan mengundang para peserta lomba yang terdiri dari kalangan umum dan photographer media nasional, acara ini pun menjadi sangat meriah. Ada upacara perkawinan, tarian perang, lompat batu dan pembuatan video. Pariwisata memang menjanjikan. Warga Bawomataluo yang kedatangan turis untuk melihat kekayaan budayanya tentu akan terus berusaha menjaga tradisinya.

Banyaknya penyelundupan benda-benda cagar budaya Nias tampaknya belum menjadi perhatian pemerintah. Dari obrolan saya dengan seorang penyelundup benda antik di desa tersebut dapat saya simpulkan betapa mudahnya menyelundupkan barang keluar nias. Setiap bulan, selalu ada saja ada selundupan. Nilai uang yang menggiurkan memang jadi motif utama.

Jika menunggu pemerintah terus, tentu akan lama beresnya. Bukankan beliau-beliau juga harus memikirkan banyak hal lainnya untuk kesejahtraan rakyat? Lalu kita bisa apa? Berpariwisata dan mengenalkan tradisi nias dengan cara masing-masing melalui media dan komunitas yang kita punya itulah yang bisa kita lakukan, kata seorang kawan. Ada benarnya juga tampaknya. Jadi, tunggu apalagi, ayo berkunjung ke Nias teman teman..

Selasa, 22 Februari 2011

mengulang lagi masa kejayaan (sorake)

Kala fajar menyapa Sorake
Hingar bingar masa lalu
Cakrawala  membentang di ujung lautan. Lama sudah sang halimun enggan berkunjung. Mega tampak gagah di atas sana. Riak air asik meracau  ditapis angin. Gelombang gelombang kecil mencuat di tapal batas pantai. Saat membesar dan membentuk ombak, papan papan selancar berusaha mencumbunya.

Tanpa ombak dan surfingpun pesisir ini tetap menawan. Diorama suam yang ditawarkan ketika fajar membentang dengan lautan tenang di hamparan mata. belum lagi aktivitas nelayan yang sibuk mengadu nyali ikan di tengah laut. Jika surut, kita bisa ikut nelayan ketengah dengan berjalan kaki. Saat senja menjemput, bayang bayang surya turun dari balik bukit dapat tertangkap mata

Ya, inilah sorake. Sebuah pantai yang tidak asing lagi bagi para pecinta surfing. Bukan hanya di Indonesia tapi juga di mancanegara. Bagaimana tidak, pantai ini menyandang predikat sebagai salah satu spot surfing terbaik di dunia. Ombak bisa mencapai ketinggian 4,5 meter. Pariwisata Sorake sepertinya sangat mengandalkan olahraga selancar.

Sorake terletak di pulau nias kabupaten teluk dalam. Untuk mencapai pantai ini, ada beberapa opsi transportasi. Kita bisa naik wing air dari medan atau padang dengan kisaran harga Rp 250.000 sampai Rp 500.000. jika ingin naik kapal, bisa melalui pelabuhan sibolga dengan harga Rp 70.000. pelabuhan sibolga dapat di akses melalui Medan atau Padang (11jam)  dengan travel seharga Rp  120.000. Semua transportasi itu akan mengantarkan kita ke teluk dalam. dari  pasar teluk dalam(dekat pelabuhan) kita dapat  menaiki angkutan  rakyat berbentuk carry dengan tujuan pantai sorake seharga Rp 5000.


Pemandangan menuju sorake, rockstar
Akan mudah sekali ditemukan para turis berlalu lalang di sekitar pantai. Penginapan dan hotel tumbuh bak  jamur di musim penghujan. Café, restoran dan rumah makan pun tidak ketinggalan.  Bisnis papan selancar, cendramata serta hasil laut tumbuh pesat. Perekonomian warga akhirnya juga terangkat. Masyarakat yang umumnya berpencarian sebagai nelayan mulai beralih profesi  dengan berusaha dibidang pariwisata. Masyarakat di pedalamanpun ikut bermigrasi ke pinggir pantai.
 
masa suram sebuah ikon pariwisata
Tapi itu dulu. Semenjak tahun 2005 semuanya tinggal hegemoni. kejayaan diawal tahun 2000-an hanya tersisa sedikit. Sorake tidak disegani lagi. Pantai yang ditenggarai akan menyaingi kepopuleran bali ini telah banyak berubah.

Penyebabnya tidak lain karena ketidaksiapan warga dan pemerintahnya dalam menyambut arus wisatawan luar. Seperti kita ketahui, dalam industry hospitality utamanya pariwisata, pelayanan menjadi prioritas. keramahtamahan, fasilitas dan keamanan harus menjadi perhatian utama bagi pelaku didalamnya. Tidak perlu sebuah jurnal ilmiah untuk membuktikan ini. 3 hal inilah yang kita perlukan saat berlibur. Benar tidak? 


Warganya memang ramah. Tapi mereka masih belum siap menerima kedatangan “orang jauh”. Ini karena karekteristik orang nias yang tidak mudah akrab dengan orang lain. Tapi jika telah akrab, orang nias adalah teman yang sangat loyal. Lalu, jika berbicara fasilitas, di sekitar pantai memang telah tersedia berbagai fasilitas yang mumpuni. Tapi yang jadi masalah adalah akses darat (laut dan udara sudah bagus)  ke pantai yang masih susah. Sarana angkutan darat hanya sedikit jumlahnya sedangkan keamanan masih belum terjamin. Tingginya kriminalitas di nias, meski bukan di pantai, ikut memberikan pengaruh buruk bagi kenyamanan turis.
Gempa yang terjadi tahun 2005 juga menjadi penyebab lainnya. Selain jatuhnya banyak korban yang membuat seluruh dunia ikut berkabung, banyak fasilitas pariwisata juga ikut rusak.  Tapi yang paling berdampak adalah bergesernya struktur tanah dan garis pantai. Akibatnya, kita hanya bisa melihat surfer dunia beratraksi di atas ombak pada bulan tertentu saja. Ini karena ombak terbaik hanya  bisa didapat pada bulan juni sampai September. Angka kunjungan wisatawan berkurang drastis setel;ah gempa. Banyak cafe yang tutup dan bangkrut. Penginapan hanya tinggal dihitung jari. Pendapatan warga menjadi turun secara signifikan.
  

Merias Wajah Sorake
Sekarang,sudah  6 tahun berlalu.Sorake tengah berjuang untuk menata kembali pariwisatanya. Perbaikan disana sini telah dilakukan. Warga semakin sadar akan peran pentingnya dalam membangun kembali pariwisata daerah ini. Sekarang orang nias sudah terbuka terhadap pendatang. Angka kriminalitas semakin kecil. Fasilitas terus digalakkan pemerintah. Akses ke sorake semakin mudah.


hasilnyapun dapat dilihat. Meski pengunjung belum sebanyak dulu, pariwisata daerah ini kembali terangkat. pada bulan tertentu wisatawan lumayan banyak. ada harapan untuk  melihat wajah  sorake  yang seperti dulu bahkan melebihi masa jayanya itu.

Semua informasi ini dihimpun dari laporan pandangan mata dan obrolan ringan dengan bang tobi, salah satu pemilik penginapan dan resto di sorake. Saya kenal bang tobi disana,dan orangnya ramah. Meski saya menginap di losmen sebelah(bukan di penginapannya), dia tidak sungkan mengajak saya ngobrol, jalan jalan dan menikmati berbagai fasilitas yang dipunyainya seperti bilyar dan motor secara gratis. Kalau ingin berkunjung ke sorake, silahkan hubungi bang tobi di 081263579612. Dia akan sangat membantu. Trimakasih bang atas jamuannya.

Selasa, 01 Februari 2011

mozaik sejarah yang mengurat nadi (bengkulu)

Pantai putih berpasir halus  ditingkahi aneka makhluk hidup yang asik bermain di tapal batas darat. Awan semarak beranak di megamega . Di tempat lain lembah hijau pegunungan berhias cemara. Di dahannya, kaki kecil burung gereja kuat bertengger. Kicaunya sahut bersahut dengan desir angin. Ada juga riuh rendah pantonim riak air sungai. Berdiri di bebatuan, terasa bulir air terjun menyentuh muka. Sedang kaki sibuk bercanda dengan puluhan ikan kecil. Ya, itulah yang disebut  keindahan bagi saya dan mungkin juga anda. Tapi, di Bengkulu saya mendapatkan sesuatu yang berbeda. Keindahan itu terdefenisikan sebagai mozaik sejarah yang masih menunjukkan keberadaannya secara utuh dan mempengaruhi pola kehidupan masyarakatnya hingga saat ini. Hal ini menarik, apalagi ditengah kebobrokan negeri ini yang sangat susah menghargai simbol perjuangan bangsanya.


Salah satu Mozaik itu berupa benteng  bernama Ford de  Malrborough. Satu dari 9 benteng yang dikategorikan berkondisi baik di Indonesia. Juga satu dari beberapa benteng yang masih di kelola dengan benar  dan menjadi objek wisata andalan. Menurut beberapa sumber, benteng ini merupakan pertahanan terkuat inggris kedua di samudra hindia setelah sebuah benteng di madras, india.


Situs sejarah yang terletak di kawasan bernama kampung ini kokoh berdiri menghadap samudra hindia. Di depannya terhampar pemandangan pantai panjang. Untuk mencapai tempat ini tidaklah sulit. Kita cukup sekali naik angkot kuning dari terminal. Hanya perlu meronggoh kocek Rp 2000,00 saja. Komplek benteng terbilang luas. Dari luar langsung terlihat dinding kokoh khas arsitektur inggris berhiaskan rumput hijau di sekelilingnya. Jadi sangat mudah untuk mengenalinya.
Untuk masuk, cukup bayar Rp 2500,00. Selanjutnya,
kita dapat menikmati  kemolekan dan segala fasilitasnya. Sebelum masuk, berfoto sejenak tidaklah rugi. Sesampainya didalam, jangan langsung simpan kamera, karena kita bisa bergaya di atas jembatan yang di seberangnya ada gapura ford de Marlborough. Halaman benteng langsung tampak selepas gapura. Luasnya, kalau dari pandangan mata, kira kira 45 m X 45 m. ada beberapa pohon rimbun untuk berteduh dan juga 2 meriam perang. Nah sebelum sampai di halaman, di kiri kanan nya ada dua ruangan. Seingat saya, satu ruangan untuk museum, satu lagi untuk ruangan tahanan. Tepat saat memasuki halaman, di depannya ada makam 3 orang yang di tata dengan baik. Saya tidak tahu siapa orangnya. Mungkin inggris atau belanda. Di kiri halaman, ada ruangan yang juga di jadikan museum dan dulunya di sini merupakan ruang kerja dari prajurit inggris ini. Di seberang halaman, ada pustaka dan juga ruang kerja. Di pojoknya ada ruang amunisi. Dan benteng ini terdiri dari 2 tingkat. Di tingkat atas ada berbagai pernak pernik pertahanan. Berbagai lubang persembunyian masih terlihat. Selain itu ada beberapa meriam yang tampak di hadapkan ke laut lepas. Beberapa tidak berada di posisi aslinya seperti dulu. Penempatan  ke laut lepas untuk menghadang kapal dan menghalau serangan lawan dari laut.

Saya cukup betah berkunjung kebenteng ini 2 hari berturut turut, di sinilah saya melihat simbiosis antara benteng dengan masyarakat Bengkulu. Pertama, tempat ini jadi sumber pendapatan kota. Pemerintahan kota serius merawat benteng. Sehingga situs ini menjadi tempat yang wajib di kunjungi meskipun anda tidak menyukai peninggalan sejarah. Kedua, banyak masyarakat yang menggantungkan periuk nasinya di sini. Bengkulu yang sejatinya bukan merupakan kota wisata, mampu dipaksa benteng ini untuk sedikit merubah wajahnya dengan keberadaan Marlborough. Mulai dari didepan kompleks benteng,  terdapat beberapa pedagang asongan. Di seberang benteng, berjejeran tempat makan seperti yang saya ceritakan di tulisan sebelumnya. Ada juga berbagai toko kelontong, pakaian dan elektronik. Di sisi lainnya, beberapa hotel tersedia bagi para turis. Yang menarik lagi, pantai panjang yang berdekatan dengan marlboroug di tata lebih ciamik dari pada sisi lain pantai ini. Ada berbagai hiburan dan penjaja makanan di sepanjang pantai yang menghadap benteng.  Hal ketiga yang saya temui adalah  tempat ini menjadi tempat tongkrongan anak muda Bengkulu. Jika sore menjelang, ramai muda mudi yang berkunjung, bukan untuk wisata sejarah, tapi merintang rintang hari bersama teman atau pacar di padang rumput yang banyak terdapat di tingkat satu dan dua benteng. Mereka asik bercengkrama dengan pandangan lepas ke samudra hindia. Menjemput senja di marlborogh seperti jadi rutinitas sehari hari mudamu di bumi raflesia.


“Saat tahun baru menjelang , kembang api dari Jakarta diimpor kesini. Sorak sorai  dan sujud sukur pergantian tahun di pimpin bapak gubernur” Begitulah kata seorang bapak di warung makan. Kata beliau lagi banyak harta berupa emas di dalam benteng. Letaknya berada di dalam gua gua yang menghubungkan seluruh kota Bengkulu dengan benteng. Suatu ketika pernah diadakan penggalian besar-besaran disini. Tidak mudah untuk mendapatkan harta tersebut, dibutuhkan “orang berilmu” untuk mengambilnya.”   

Kota Bengkulu belumlah sebesar kota-kota di jawa ataupun seramai medan dan Palembang di sumatera. Warganya berupaya untuk terus saling mengangkat taraf hidup dalam ke gotong royongan.  Sebagian kecil dari mereka masih terlena akan hegemoni tukar guling Bengkulu-singapura antara belanda dan inggris. Banyak yang masih berandai andai, kalau saja kita tetap di asuh inggris tentu sudah semaju singapura sekarang.
Masih ada beberapa kepingan sejarah yang turut membentuk pola sosial masyarakat disini. Ada rumah pengasingan bung karno, rumah fatmawati, juga patung sentot ali basa dan lainnya. Semua cerita dan pola sosial masyarakat itu saling mempengaruhi dengan mozaik mozaik sejarah yang di miliki kota ini.

Sebuah kota yang sangat menghargai nilai sejarah bangsanya. Menjaga memori perjuangan bangsa seperti kesabaran melestarikan bunga raflesia. Bunga endemik  yang juga punya nilai histori tinggi bagi masyarakat Bengkulu.

Minggu, 16 Januari 2011

yang ada hanya kuliner indonesia

saya sempat bertanya pada seorang teman asal bengkulu, tentang perkara makanan khas sana. hanya gelak pembalas tanya. tanya sekali lagi di jawabnya lah, tidak ada, hanya makanan indonesia yang kau jumpai disana katanya.

setiba bengkulu, saya sempatkan singgah dikedai makan yang tidak jauh dari bandara fatmawati. disinilah pertamakali berkenalan dengan nasi uduk dan ketupat sayur ala bengkulu. nasi uduk di kedai ini relatif sama dengan di daerah lain meski lebih pedas. ada nasi santan, telur, mihun serta tempe iris. bedanya, porsi nasinya besar seperti nasi padang. maklum saja dikedai ini orang menyantapnya sebagai makan berat bukan sarapan seperti di jawa. apakah nasi uduk ini menunjukkan peleburan budaya antara transmigran jawa dengan perantau minang? atau mereka kawin dan menciptakan suatu produk fusion yang toleran terhadap perbedaan di meja makan? oke, saya coba abaikan, mungkin hanya di sekitar bandara saja nasi uduk yang seperti ini. kalau ketupat sayurnya, bisa di bilang ketupat sayur padang. tapi hanya menang di porsi ketupat, sayurnya sangat sangat sedikit. saya lihat orang disini mengakalinya dengan menambahkan telur dan gorengan.kuahnya tidak pekat. kalau rasa, ah, masih jauh dari daerah asalnya, padang.

hujan datang dan reda sesuka hatinya pagi itu. niat ke benteng malrborough ditunda sejenak. dingin yang menyerang sendi sendi tulang membuat saya membutuhkan asupan lagi. saya langkahkan kaki dari mesjid muhamaddiah ke sejejeran warung makan di depan benteng. cukup bingung juga melihat jejeran ini. semua pedagang menawarkan menu makanan dan harga yang hampir sama. ada mie goreng, nasi goreng, lontong sayur, nasi uduk serta bubur. dalam hati saya bergumam, para pedagang ini mungkin lulusan sarjana atau minimal sma. soalnya mereka mengerti duduk perkara pasar persaingan sempurna. mm, tapi apa iya? kenapa mereka tidak kerja dikantor saja kalau begitu?

kopi yang dipesan akhirnya datang juga. diluar masih hujan. sejumput kopi hangat rasanya cukup pas untuk menemani hujan sampai dia lelah.  saya tatap lekat lekat benteng diseberang sana. nikmat juga rupa suasana ini.
sekelabat saja dapat saya nikmati karena kemudian seorang bapak datang dan bercerita panjang tentang sejarah benteng serta harta didalamnya. dia tahu banyak sepertinya. bapak ini berusia kisaran 50 an. ini ditebak dari kerutan di dahinya. memang usia equal terhadap pengalaman ya?! pakaiannya santai; kaos dan celana pendek. mungkin bapak ini orang yang ease going menghadapi hari-harinya?. belum setengah jam datang lagi seorang bapak, dari jumlah kerutan didahinya, dia sepertinya lebih muda sedikit. 40an lah. air muka bapak ini tegas.  pakaiannya kemeja, celana panjang. dia ikut bercerita, tapi dengan kata yang dirangkai perlahan. dari situ asay menyimpulkan bapak ini orangnya serius dan hidupnya getir. walaupun hanya tebakan, tapi pagi pertama di bengkulu saya mendapati dua kutub ironi yang sedang berkisah. di temani kopi sambil menatap benteng sesekali, saya pun menjadi pendengar yang baik. 

setelah makan nasi padang sore kemaren, siang ini ingin lagi. sayang di sekitaran pengasingan bung karno, tidak ada penampakan uda pedagang nasi padang. akhirnya saya memilih warung pas didepan kediaman bung karno. lumayan ramai orang disana. beberapa orang berbaju polisi dan beberapa keluarga tampak makan. jaminan enak sepertinya. kuputuskan makan nasi uduk.. ternyata sama seperti di dekan bandara porsi dan lauknya. tidak lupa meminta nasinya dilebihkan sedikit. ini agar cukup makan 2 kali saja sehari sesuai konsep budgeted traveller. enak! nasi uduknya enak, rasanya pas. ini  merupakan nasi uduk terenak yang pernah saya makan. sekarang saya bisa mendefenisikan bengkulu selain bunga. yaitu orangnya yang hebat membuat nasi uduk. tapi ada satu hal menjengkelkan disini. ibu penjualnya meletakkan harga yang tinggi. satu porsi 9000 rupiah. dan pelitnya minta ampun. ngomel saat saya minta tambah sambal dan menghitung tambahan nasi yang tak sampai satu sendok nasi. tambahannya dihitung 3000 rupiah.

esoknya di dekat pasar bengkulu, saat akan beranjak ke linggau (sumatera selatan) saya melewati rentetan warung makan sate madura, soto, martabak bandung, mpek mpek, mie aceh dan lainnya. saya lebih memilih makan mie ayam. lagi lagi makanan bengkulu menang porsi. mie ayamnya buanyak. rasanya mantap jaya. harganya juga sama dengan jakarta 6000 rupiah. saya tidak habis pikir perhitungan abangnya dalam mencari untung. bisa-bisanya harga segitu, mienya banyak, ayamnya banyak dan sayurnya banyak.

sejauh mata memandang, kuliner di bengkulu sangatlah beragam, dari penjuru nusantara ada di sini. hanya rasa sedikit berbeda dan porsi yang lebih besar. terkait porsi, agaknya orang bengkulu memang suka makan berat. lalu kita tidak bisa menjumpai makanan khas daerah ini. ya karena memang tak ada.  benar juga kata temanku, yang ada hanya kuliner indonesia!
==========================
sate:              10000
nasi padang:  10000 - 12000
kopi:               3000
nasi goreng:   10000
nasi uduk:        8000 - 9000
gorengan:        1000
mie ayam:        6000
sate udang:  2500

Jumat, 14 Januari 2011

one day before

awalnya, saya akan menempuh lampung dulu dengan burung besi. Hanya, karena hasutaan sebuah promo maskapai, saya membeli tiket jakarta- bengkulu seharga Rp 77ribu. murah memang, oh betapa impulsivenya saya. dengan begitu, start perjalananpun berubah, dari bengkulu tanggal 28 desember 2010.

jika mendengar kata bengkulu, apa yang terlintas dalam pikiran teman? sebagian mungkin menjawab bunga raflesia. ya, raflesia arnoldi memang merupakan ikon kota bengkulu. bunga raksasa langka ini tumbuh subur disini. menjadi fenomena karena selain susah didapat di tempat lain juga karena mekarnya sangatlah jarang. lalu apa lagi yang terpikirkan? jawabannya mungkin beda beda kali ini. tapi kalau saya malah hanya tau bunga raflesia saja awalnya. ini karena wawasan nusantara yang masih cetek sepertinya, he. bunga bangkai raksasa ini cukup mendorong minat saya berkunjung ke bengkulu. 


namun apa daya, ternyata raflesia belum jadwalnya mekar di bulan desember januari. setan pun menggoda," sudah, tak usah saja kesana, tidak ada apa apa( setan salah, itu saya buktikan setibanya di bengkulu)".  tapi karena tiket sudah terbeli, saya tidak mau bermuram durja, informasi mulai di kumpulkan. banyak tempat wisata yang menarik ternyata di bengkulu. oke, saya berhasil meyakinkan diri dan saatnya mematangkan persiapan.

1. rapihkan itinerary
saya tidak menyusun secara ketat jam per jam jadwalnya .paling hanya harus tau, pagi kemana, siang kemana, malam kemana.  saya ingin menikmati suasana bengkulu tanpa berlarian dengan jadwal (waktu). 
2. cari tau situasi terkini di tempat tujuan
cuaca di bengkulu dan sumatera aman-aman saja. berita aneh seperti bentrokan, kriminal besar juga tidak ada. tapi ada satu yang perlu di perhatikan, kondisi padang yang masih labil, gempa masih mengancam
3. siapkan semua perlengkapan tempur
inilah penghuni tas ransel saya:
- pakaian: kaos, batik, jaket, sarung, celana pendek, jeans, sendal
batik di bawa, siapa tau aja saat perut lapar, lagi ada kondangan dekat sana. you know lah, apa yang terjadi.
kalau sarung, sifatnya yang multi fungsi membuat saya mau tidak mau membawanya. selain untuk solat, bisa juga penghangat tubuh, alas tidur ataupun pengganti handuk.
-obat,obatan: P3K, obat sakit kepala, antimo
pengalaman kecelakan di jogja membuat saya menyadari betapa pentingnya P3K. selain bisa langsung menolong diri, ini juga bisa menghindari biaya tidak perlu dirumah sakit jika lukanya tidak berat. obat sakit kepala dan antimo juga penting agar tetap fit selama perjalanan
-peralatan mandi: sabun, odol, shampo dll
mudah saja didapat dimanamana, tapi kalau lagi kepepet bagaimana? ah, kasih sedikit ruang di tas ini lah ya.
-makanan: mie instan dan energen
makanan cepat saji yang saking cepatnya bisa langsung dinikmati tanpa air panas. kalau kepepet atau harga makanan mahal, inilah solusi saya.
-kosmetik
bisa pelindung matahari,deo, parfum atau lainnya. saya tidak membawa banyak ragam kosmetik, tapi entahlah kalau cewek. banyak kali ya?
-lainnya: notes, pulpen, kamera,tripod
ya, perlengkapan tambahan yang tidak bisa saya lupakan. sebuah buku kecil untuk mencatat kejadian menarik dan kamera untuk memotret momen terbaik.
4. persiapan fisik dan mental
jaga kesehatan, itu yang saya lakukan. seharusnya saya berolahraga sih karena dikamar terus kerjaannya. tapi apa boleh buat, jaga asupan saja. olahraga itu malasnya ampun ampunan

malam sebelum keberangkatan, saya duduk menengadah menatap langit. sesekali,melihat hape berharap ada getar panggilan masuk. saya memikirkan antah berantah saat itu. kuliah,orang tua, jalan, kawan. semua diaduk jadi satu. random! saya putar sebuah lagu kesayangan. sepertinya ini lagu pas untuk mengantar malam saya menuju esok. sipirili


sundown at midnight - fariz rm-


the morning I left for jakarta\there's not much words\that we could have say\maybe it simple and we understand it\this could be the end of our days

Somehow we don't have our secrets\That we have to keep it private inside\Just an old memories\And became our\stories\Please tell me if i did make it right


And i knew ... It sundown at midnight\The time when you wave me goodbye\It couldn't be right\I don't have to lie girl\Something between us\Close to be true i knew\It sundown in my heart


Walkin' myself to the airplane gate\I can not see your face\But i know you're there\I can feel my heartbeat\Down\through your heart\t's like blaming me for doin' unfair


Missing you ... It sundown at midnight\I know how hard i should try\Can you tell me why ...
You left me the romance\Now that you know ...\I couldn't forget you


It sundown in my heart\Midnight in your heart\Sundown in your heart\Midnight in mine

Kamis, 13 Januari 2011

sumatera overland



Kalau dari namanya, teman-teman mungkin membayangkan sesuatu yang luar biasa ya? tapi tidak, itu hanyalah judul untuk me leading agar semuanya baca ini tulisan, hehe. jadi begini, saya akan dan sedang melakukan perjalanan ke beberapa tempat di sumatera. menelisik keunikan budaya, keindahan alam serta kehidupan masyarakat yang tentunya berbeda di setiap kota. sebisa mungkin dengan biaya yang paling murah. sebagian dari kita menyebutnya backpacker. tapi saya enggan menyebut diri backpacker karena hanya menggunakan tas ransel biasa, bukan bacpack untuk jalan-jalan.  :)

terinspirasi untuk mengunjungi 0 KM indonesia di sabang, saya menjadi ingin  ke beberapa tempat sumatera. lho? alasannya, biaya ke sabang langsung amatlah mahal. jadi baiknya tour darat menuju kesana, sekalian saja lihat semuanya. itulah yang terlintas di benak.


ada apa di sumatera? sumatera yang disebut juga pulau emas ini memiliki beragam pesona yang khas di tiap daerahnya. sabang dengan bawah lautnya serta titik 0KM indonesia, aceh dengan syariah islamnya, sumbar dengan ngarainya, nias dengan ombak serta tradisi megalitikumnya, bengkulu dengan bunga langkanya serta belitong dengan pantai yang luar biasa.

Bulan januari 2011, nah, bulan itulah yang terpilih untuk melaksanakan ritual ini (terkesan mistis kan, :D). akan dimulai dari jakarta tanggal 28 des dan kembali lagi ke jakarta tanggal 26 januari. satu bulan lamanya. pemilihan bulan satu karena bertepatan dengan libur perkuliahan.

setelah dapat tanggalnya, saya mencoba menyusun itinerarinya. mulai dari transportasi, akomodasi serta destinasi. beragam informasi yang berserakan di internet coba dikumpulkan. ini dilakukan saat bulan september, awal ide ini tercetus. forum-forum seperti indobackpacker, kaskus, program aku cinta indonesia serta ekspedisi zamrud khatulistiwa saya kunjungi. informasinya di sedot habis habisan. trimakasih ya admin, moderator dan para penulis situs tersebut. itu akan banyak membantu selama perjalanan saya.

dengan otak yang sudah kebanyakan main PS ini, saya coba menerjemahkan isi semua situs tadi. hasilnya, terpilihlah beberapa tempat yang akan saya kunjungi yaitu bengkulu, padang, mentawai, medan, sabang, palembang, babel dan lampung. saya tidak memilih semua tempat yang ada di sumatera. pertimbangannya adalah:
1. waktu dan tenaga, tidak mungkinlah, satu bulan ngelilingin semua sumatera. itulah mengapa enggano tidak masuk. kapal kesana hanya ada hari rabu dan sabtu. jadi minimal kita akan menghabiskan waktu 4 hari di pulau itu saja.
2. objek wisata, untuk daerah yang minim atau bukan daerah wisata, saya akan berfikir 3 kali. daerah ini antara lain: riau dan jambi
3. biaya, kepulauan riau terpaksa diacuhkan. pulau-pulau ini butuh akomodasi yang mahal. duit darimana toh? padahal luar biasa ciamiknya wilayah ini.
4. keamanan, nias tidak saya masukkan karena gamang akan keamanannya. banyaknya cerita yang beredar tentang pulau ini. bagaimana watak masyarakatnya menjadi pertimbangan juga. dikemudian hari saya mengetahui kalau cerita orang tentang nias tidak benar adanya seiring perjalanan ini. nantikan :D
tempat wisatanya sudah di list, sekarang yang agak sulit adalah mencari akomodasinya.

akhirnya saya pasrah dengan penginapan. menginap dimanapun boleh lah. nanti tanya sana-sini saja ketika sampai di tempat tujuan. informasi tentang penginapan sebenarnya sudah didapatkan, tapi harga yang ditawarkan masih di atas daya sewa. jadinya tidak terpakailah. sedangkan untuk transportasi nantinya saya berfikir akan ada bus antarkota yang bisa di dapat di terminal-terminal di tiap kota. masalah harga relatif  belum bisa didapat gambarannya. saya cuman bisa menerka nerka secara kasar berapa anggarannya. yang harus mendapat perhatian adalah kapal ke pulau. berbeda dengan di darat, transportasi laut punya jadwal yang ketat dan bisa jadi jarang. jadi mau tidak mau, data harus didapat sebelum berangkat. dan, well saya dapat juga, walau sebahagian.

dengan semua ketidak pastian tersebut, saya menganggarkan uang sejumlah 2 juta selama perjalanan ini. ini juga dengan mengabaikan biaya di padang,  karena kampung halaman jadi tidak perlu mengeluarkan uang. hehe 

selanjutnya, mencari teman seperjalanan. berkunjung ke beberapa tempat sendirian? saya pikir bukan ide bagus. nah, mulailah beberapa kawan saya ajak. salah satunya adalah teman yang pernah mengelilingin sumatera. sebahagian mau dan terkumpulah 3 orang yang siap berangkat. sayang, satu per satu mengundurkan diri. mungkin mereka berfikir ini adalah ide yang gila. butuh biaya yang lebih besar dari perkiraan awal menurut mereka. lagi, dikemudian hari saya harus jujur membenarkan perkataan mereka. ini memang ide gila dan bodoh lebih tepatnya!

============================
" jelajahi eropa sampai ujung afrika. rengguk nikmatnya madu ilmu pengetahuan di altar sorbonne. -sang pemimpi- "