Kamis, 23 Desember 2010

Purnama di pantai selatan jawa (part I)

sekretariat B.O pers Suara mahasiswa UI, kamis malam, 250210
malam itu terasa beda bagi 3 bocah; rian (saya), ikha dan febry. tak bisa di sangkal, kami ingin segera mengakhiri malam itu dan berharap mentari jumat segera menyapa. segala perlengkapan untuk perjalanan ke ujung genting telah di persiapkan dengan matang, jadi tidak ada alasan untuk berlama-lama menikmati malam ini. bayangan esok memang terlalu menggoda. kita yang biasanya mau “ngetem” lama di sekret walaupun krida telah usai tidak melakukan hal itu kali ini. kami bertiga langsung balik arah dan pulang saat bung toge mengucapkan ” sekianlah krida kita hari ini dan terima kasih semuanya”
terminal depok, 07.20, 260210
mengambil tempat duduk di terminal tunggu, saya dan ikha berusaha mencari obrolan lain untuk membunuh waktu menunggu kedatangan si febry fawzi. sudah hampir 20 menit dari jadwal yang disepakati, tapi orang ini belum juga muncul.
terminal baranangsiang, 08.30
para kenek berusaha menarik-narik kami dalam menawarkan jasa angkutannya. setelah menaiki kereta dan di sambung angkot, memang kami harus menaiki angkutan minibus dari bogor menuju sukabumi dari terminal ini.
surade, 15.55
setelah melewati pegunungan dengan jalan yang berliku-liku selama 3,5 jam dari suka bumi, kita akhirnya dapat mencapai surade. jalannya memang tidak se ‘extreme’ kelok 44 di danau maninjau, sumbar, tapi dengan lama perjalanan 3,5 jam ditambah ke’wajar’an sopir-sopir disini untuk memacu gasnya sampai angka 40 km perjam di belokan patah, kami serasa menaiki kincir kincir dufan selama 1 jam. itu juga yang kemudian membuat surade tampak begitu indah dan bersahabat (saat sampai di sana). padahal daerah ini hanyalah kota kecil tanpa objek wisata yang menarik. selanjutnya kami pun bingung. dan bapak minibus menyadari itu.
bapak yang tampaknya iba pada kami yang tidak tahu mesti naik apa lagi dari surade itu dengan berbaik hati mau mengantarkan ke wisma kami di ujung genteng.dengan jalanan yang relatif mulus dan jarang berbelok, kami dapat sedikit beristirahat di angkutan ini. apalagi dengan pemandangan dikiri kanan jalan yang di penuhi perkebunan kelapa, ladang, kerbau yang mondar mandir disisi jalan, serta laut yang membentang jelas disisi kiri jalan. terlihat juga seorang pengambil nira sibuk memanjat pohon kelapa. memang daerah ini juga terkenal dengan industri rumahtangga gula merahnya. beragam panorama ini membuat kami semakin tak sabar untuk sampai ke tujuan utama, pantai pangumbahan.
balai wisma, ujung genteng, 19.45
setelah meletakkan barang di wisma, 3 orang bocah bersemangat (termasuk saya) ini langsung menikmati senja di ujung genteng dengan ber wara-wiri di sepanjang jalan sambil berfoto. sempat terpikir mau ke pantai, tapi niat itu diurungkan dan kembali ke wisma karena magrib datang menjelang. takut anjing dan ular sih lebih tepatnya, hehe. kemudian kami pun melepas penat setelah perjalanan 9,5 jam di balai (saya menyebutnya saung, tapi 2 orang teman saya menyebutnya sebagai balai, sembari menunggu pesanan , kami pun asik membicarakan perjalanan besok serta kenangan masa muda. 3 mie rebus telor dan satu piring nasi putih pun kemudian datang untuk menemani obrolan tidak jelas itu. oh ya, ratusan bintang menerangi malam kami saat itu. satu hal yang jarang sekali didapat di jakarta dan kota besar lainnya. mungkin benar kata doraemon, banyaknya gedung dan cahaya membuat sinar gemintang
menjadi redup hingga malu menampakkan dirinya.
pantai ujung genteng, 7.00, 270210
bah, dasar bocah-bocak tidak berperasaan. saya yang kurang enak badan dari semalaman tetap dipaksa untuk ke pantai pagi itu. apalagi si febry, tidak cukup apa dia menghabiskan coklat saya hingga tak bersisa? huh. dengan enggan, sayapun melangkah ke luar kamar dan mulai bersiap. sepanjang perjalanan menuju pantai, kami dihadapkan pemandangan yang alami khas perdesaan. jalanan hanyalah setapak yang di sisi-sisinya terhampar semak belukar dan beberapa rumah warga.
tak lama kemudian, suara deru ombak berkejar-kejaran mulai terdengar. kamipun
berlarian menuju pantai bak anak kecil bertemu air. yah, setelah sampai di pantai
ternyata kami tidak mendapati kenyataan sesuai dengan pengharapan. pantai ujung genteng terbilang biasa. tidak ada kemewahan berarti yang di tawarkannya. selain pantai yang bersih, tidak ada lagi kelebihannya. dengan menyimpan sedikit rasa kecewa kami pun berjalan menyusuri pantai. siapa tahu kami bisa menemukan sisi pantai yang berbeda di ujung sana. (bersambung)

———————————–
*catatan kaki berikutnya: menikmati ikan bakar dan berfoto ria di curug serta 
beristirahat di villa yang menghadap muara lebih dari cukup untuk sebuah jalan 
jalan. awesome
*photo by febry fawzi

Rabu, 15 Desember 2010

Egalitas ala nasi kucing

Libur 1 muharam ini saya dan 3 orang teman pergi ke negeri mbah marijan. Selama berada di kota jojga, kita hampir setiap hari makan nasi kucing. Harganya murah meriah, Rp 1000,00 per porsi. nasi kucing juga mudah dijumpai. Ada banyak angkringan yang berjejeran di sepanjang jalan malioboro, pathuk, depan keraton, sarkem, lempuyangan dan tempat lainnya.
Oh ya, sebelum itu izinkanlah saya memperkenalkan apa itu nasi kucing. Nasi kucing atau sego kucing adalah kuliner khas jogja yang di sajikan dalam porsi kecil seperti ukuran nasi untuk kucing.  Makanan yang disajikan berupa nasi kecil dengan lauk pauk seadanya seperti telor, tempe atau teri yang dipadukan  dalam satu wadah. Bungkusnya adalah daun pisang dan kertas minyak. Angkringan biasanya tidak hanya menjual sego kucing (nasi kucing), tapi juga berbagai teman santapnya seperti sate telur puyuh, gorengan, the manis, kopi serta sate hati ampela.
Ketika makan sego kucing  di angkringan, saya mendapati experience yang unik. Bapak/ibu penjual tampak ramah dan sabar dalam melayani pembeli. Merekapun akrab dengan para pembeli. Makhluk-makhluk lapar yang duduk disana juga terlihat lepas. Santai untuk makan, tertawa cekikikan, dan bersendagurau. Antara satu pembeli dengan yang lain cenderung akrab meski baru kenal di angkringan. Pembeli seakan menghilangkan status sosialnya disana. Tidak terlihat kaum borjuis atau ploletar seseorang di meja angkringan. Bahkan, dengan acuhnya, jika tempat duduk penuh, pembeli bisa makan sambil duduk di emperan toko atau jalan. 
Menyantap nasi kucing dalam suasana yang guyub merupakan salah satu memori yang paling saya ingat saat bertandang ke kota jogja.  kekeluargaan yang terbangun di angkringan menjadi nilai lebih dari kuliner ini. Ternyata, produk yang murah meriah juga bisa menawarkan experience yang tinggi seperti starbuck. Experience-nya adalah Nasi kucing yang egaliter.
Sesuatu yang membuat saya candu untuk mencumbu jogja lagi.
------------------- [] [] --------------------
*rincian harga
Nasi kucing: Rp 1000,00                 Gorengan: Rp 500,00                      Tahu bacem: Rp 500,00
Tempe bacem: Rp 500,00               Sate hari ampela: Rp 1000,00         Sate ayam: Rp 1500,00
Sate telur puyuh: Rp 2000,00        Es teh manis: Rp 1500,00               Teh  manis : Rp 1000,00
Kopi hitam: Rp 1000,00