Selasa, 11 Januari 2011

mahal berkualitas?

SD Muhammadiah Manggar, sekolahnya para laskar pelangi
Melihat kondisi saat ini, kita seperti balik lagi ke masa lalu. saat kita dijajah oleh bangsa belanda, belajar di sekolah merupakan sesuatu yang amat mahal bagi seorang pribumi. Sekolah rakyat dan MULO hanya bisa dijangkau oleh kaum borjuis dan sedikit rakyat jelata. lihatlah, sekarangi pendidikan menjadi barang mewah bagi banyak orang di negeri ini. banyak diantara kita tidak dapat menikmati akses ke bangku sekolah. bermacam-macam penyebabnya, mulai dari mahalnya biaya pendidikan, tidak tersedianya fasilitas di daerah sekitar tempat tinggalnya hingga tingginya beban hidup yang menyebabkan seorang anak harus menjadikan pendidikan sebagai pilihan kesekian dan lebih memilih membantu orang tuanya

menilik dari mahalnya harga pendidikan, apakah kita mendapatkan pengajaran yang berkualitas? apakah barang mewah ini memang pantas di hargai sebegitu tingginya? apakah akan tercetak orang-orang hebat seperti dulu yang mampu memerdekakan indonesia dalam konteks kekinian? jangan sampai, sudahlah mahal dan tidak semua orang menikmati ternyata pendidikan kita tidak mampu menciptakan output yang berdaya saing untuk menghadapi tantangan global dan tantangan dalam negeri.

UNESCO pada pertemuan “The International Commission on Education for the Twenty first Century" merumuskan konsep pendidikan untuk sekarang dan masa depan yang dilaksanakan berdasarkan empat pilar proses pembelajaran yaitu Learning to know, Learning to do, Learning to be dan Learning to live together. empat pilar yang dianggap penting untuk pembangunan berkelanjutan sebuah negara melalui pendidikannya.untuk mencapai edukasi berkualitas yang kita inginkan, empat pilar ini perlu kita telaah.

learning to know (belajar untuk mengetahui)

pilar ini menuntut penguasaan terhadap bidang ilmu secara mendalam dengan mengetahui apa yang bermanfaat dan apa yang tidak bagi kehidupan. guru/dosen berfungsi sebagai fasilitator dani teman dialog bagi siswa.
kita sudah mulai menerapkan metode ini melalu kurikulum di sekolah dan kuliah. kegiatan kuliah atau sekolah tidak lagi satu arah yaitu dari guru/dosen. siswa dituntut lebih aktif di kelas. berpartisipasi aktif dalam mencari informasi dan melakukan kegiatan pembelajaran.

learning to do (belajar untuk menguasai keterampilan)

memfasilitasi siswa terhadap bakat dan keterampilan yang dimiliki adalah poin utama dari learning to do ini. setiap anak mempunyai bakat yang harus difasiltasi oleh lembaga pendidikan. bakat dan keterampilan ini niscaya akan menompang ilmu dasar yang mereka miliki.
pada kenyataannya, di negeri ini negara seperti tidak peduli pada 'learning to do'. para pengambil kebijakan membuat kurikulum yang hanya fokus kepada ilmu dasar. lihat saja porsi mata pelajaran di sekolahan yang hanya memberi ruang untuk keterampilan yang jauh lebih sedikit. perbandingan antara ilmu dasar dan keterampilan mencapai 80:20.

padahal banyak dinegara maju yang meletakkan kurikulum antara keterampilan dan ilmu dasar di posisi yang sama. mereka memberi kebebasan murid-muridnya berekspresi lewat minat dan bakatnya masing masing.Ippo Santoso, seorang motivator, mengatakan bahwa keterampilan identik dengan otak kanan dan ilmu dasar identik dengan otak kiri. banyak dari orang sukses yang menggunakan dua otak ini secara seimbang. untuk itu perlu dibentuk semenjak dini keseimbangan otak kiri dan otak kanan melalui bangku sekolah. dia juga berujar, tak heran jika anak-anak SD di indonesia disuruh menggambar pemandangan, maka gambar yang muncul kalau tidak gambar gunung beserta sawah adalah gambar laut beserta sebuah perahu. keterampilan mereka tidak berkembang!

learning to be (belajar mengembangkan diri)

belajar mengembangkan diri bisa disebut juga belajar menjadi diri sendiri.sebuah pengaktualisasian diri terhadap apa yang dipelajari.mengembangkan diri lewat bakat dan minat yang dimiliki. lalu belajar berperilaku sesuai norma dan kaidah dalam masyarakat. learning erat kaitannya dengan guru sebagai pendidik, bukan pengajar. pengajar hanya menolong siswa untuk mengerti materi yang diajarkan. sedangkan pendidik menyampaikan materi yang di balut nilai-nilai dan norma yang mebantu pengembangan diri si siswa.

pendidik, begitu lah sosok guru disebut di indonesia. tapi pada kenyataannya masih banyak guru yang tidak mendidik. mulai dari kekerasan dari guru ke siswa, guru yang tidak menanamkan nilai-nilai pada siswanya hingga mengajarkan hal yang salah pada siswa.dan siswa pun akan mencontoh apa yang di ajarakan pada mereka.

learning to live together (Belajar untuk hidup bermasyarakat)

learning to live together menuntut pemahaman terhadap diri dan orang lain dalam kelompok yang akan menjadi bekal untuk hidup bermasyarakat. situasi bermasyarakat dimana ada saling menghargai, kebiasaan hidup bersama, terbuka, memberi dan menerima hendaknya dikondisikan di lingkungan sekolah. 
hal-hal seperti ini memang ditanamkan di sekolah lewat kurikulum yang memberi tempat untuk mata ajar budaya serta keberagaman. pemerintah juga fokus untuk privatisasi pramuka yang disebut memberi nilai positif siswa lewat nilai-nilai kebersamaan dan bermasyarakat yang ada di dalamnya.

walaupun kurikulum untuk learning to know terbilang sudah tepat arahnya, masih ada satu pertanyaan untuk itu. bukankah dengan menuntut partisipasi siswa, maka mereka harus giat mencari informasi? bagaimana dengan fasilitas yang ada? apakah fasilitas untuk siswa belajar, mencari informasi dan lainnya sudah cukup tersedia? anggaran 20 % yang di bangga-banggakan dan program BOS yang disebut tepat sasaran masih belum mampu menyediakan fasilitas yang cukup bagi siswa. lihat saja, masih banyak sekolah yang perpustakaannya tidak ada. dengan jumlah sekolah di Indonesia saat ini sekitar 250 ribu unit, perpustakaan hanya ada 23 ribu unit. hanya ada kurang dari 10% sekolah yang punya perpustakaan. fasilitas labor dan internet pun juga masih kurang diindonesia.
jadi, fasilitas menjadi titik tekan dalam mengkaji learnign to know yang berpusat pada siswa ini. sarana pendukung harus bisa lebih ditingkatkan.
learning to do diperbaiki dengan cara merapikan lagi kurikulum yang ada. kurikulum perlu melihat bakat dan keterampilan sebagai hal yang sama pentingnya dengan ilmu dasar. pengejewantahaannya tentu saja pertama pada porsi pelajaran berbau keterampilan yang jamnya lebih banyak. lalu pada fasilitas pendukungnya.
learning to be akan dapat membentuk siswa dengan cara membentuk pendidiknya terlebih dahulu. Harus ada program sejenis sertifikasi untuk membedakan pendidik dan pengajar. bukan hanya sertifikasi seperti sekarang ini, yang berfokus ke ilmu ajar si guru.
yang di lakukan pemerintah melalui kurikulum dan pramuka sudah tepat untuk learning to live together. saya cukup setuju dengan program privatisasi pramuka karena pramuka vital perannya untuk mendidik siswa bermasyarakat. 

pada akhirnya, saya tidak mau membahas secara mendalam kenapa sekolah mahal, yang mau saya lihat hanya apakah sekolah yang mahal itu sebanding dengan kualitas yang kita dapatkan. lalu bagaimana sekolah yang mahal itu dapat menghantarkan negara kita sejajar dengan bangsa lainnya. mungkin terlalu muluk, maklumlah, ini sebuah tulisan didini hari disela kestressan belajar OI (organisasi industri).

akhir kata, selamat UN buat adik-adik ku, selamat UTSbuat teman-teman semua. semoga kita bisa sukses dalam pendidikan yang mahal ini. amin

Tidak ada komentar:

Posting Komentar